arrow_upward

Berliku Perjalanan Menuju Pulang Kampung bersama Honda CB150X

Senin, 29 September 2025 : September 29, 2025
Raut wajah wanita paru baya, terbayang dalam ingatan. Wanita itu sangat spesial dalam hidup, kasih sayangnya tidak terbalas hingga kini. Ia adalah ibunda Frengki di Banjar Agung, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.

Sudah hampir dua tahun Frengki tidak bersua dengan ibunda tercinta, karena ia harus banting tulang meraup rupiah di perantauan, Ujung Batu, Provinsi Riau. 

Isak tangis ia telan sendirian, apalah daya! Anak lanang harus kuat dan tangguh. Frengki memang terkenal pekerja keras, ia ikhlas menghabiskan waktu di kebun demi menghasilkan uang dari buah semangka. 

Sistem bagi hasil namanya, terkadang untung dan terkadang buntung. Hanya harapan besar dan doa-doa yang dimunajatkan kepada Tuhan, agar usahanya berjalan dengan baik.

Malam itu, bintang tidak lagi menemani langit kelabu. Apalagi bulan, ia sudah sembunyi diufuk barat. Dada semakin sesak, mata tidak bisa tidur. Keringat kian membahasi rambut panjangnya. Ia rindu kampung halaman. Ia ingin pulang kampung bersua dengan sanak dan sodara di Lampung sana. 

Akhirnya Frengki terlelap dalam dikesunyian malam. Begitu berat ia menahan rindu dengan orang-orang tercinta di Banjar Agung. 

Pagi mulai datang, suasana pagi itu tidak sama dengam hari hari sebelumnya, apakah ini petanda ia harus pulang kampung hari itu. Ternyata benar, Frengki sudah membulatkan tekat, agar bisa bersua dengan keluarga secepat mungkin.

Pagi itu ia langsung mengambil kunci motor kesayangannya, Honda CB150X. Ia begitu yakin CB150X bisa mengantarkannya ke Lampung dengan cepat. Karena Honda CB150X cukup terkenal ketangguhannya untuk perjalanan jauh. 

Frengki mulai pamit dengan teman-teman kerjanya untuk meninggalkan Ujung Batu. Cuaca sedikit mendung menemani perjalanan Frangki kala itu, ditambah lagi, jalur lintas Pekanbaru - Sumatera Barat juga terkenal dengan ramai truk-truk besar melintas. 

Kecelakaan di Jalan Lintas Bangkinang

Sayang, seribu kali sayang. Baru saja sekitar puluhan kilometer dari Ujung Batu. Frengki harus menelan pil pahit. Wajah ibunda terbayang-bayang, ia merasa sudah sampai di Lampung. Tak lama setelah itu, ia tersintak bangun. Ternyata ia baru saja kecelakaan, sekitar pukul 5 sore di jalan Lintas Bangkinang. Beruntung ada banyak orang - orang baik pada saat itu. 

Lalu ia mencoba bangkit, menahan sakit bagian kakinya. Ia perlahan melihat motornya, ternyata crasbar motornya hancur dan sejumlah bodi motor gores. 

Kendati, ia tetap bersykur, karena bisa selamat dari kecelakaan maut itu. Ambisi pulang kampung terus membara, ia tidak peduli kondisi badannya, ia memaksa harus tetap jalan. 

Malam, pun tiba. Ia baru saja meninggalkan Kelok Sembilan, Kabupaten Limo Puluh Kota. Kemudian dua jam berlalu, jejaknya kian terhapus oleh hujan. Ia tetap bertahan menarik tali gas dan pada akhirnya sampai di Tanah Kalahiran Bung Hatta, Kota Bukittinggi. 

Disambut  CB150X Adventure Sumbar

Setiap malam Minggu, Kota Bukittinggi memang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan. Setiap sudut terlihat para bikers sibuk dengan aktifitasnya seperti nongkrong atau hura-hura saja. Apalagi suasana malam di Kota Bukittinggi begitu Indah.

Beruntungnya malam itu, Frengki berhenti di objek wisata Jam Gadang. Sontak ia terkejut, karena ada seseorang menyamperinya. Ia adalah Dedet, member CB150X Sumbar dan Owner CB150X yang tinggal di Kota Bukittinggi. Kemudian juga ada Bambang dan istrinya dari Pekanbaru untuk menikmati indahnya Jam Gadang pada malam hari. Mereka bertiga bercerita panjang ketika itu, tentang perjalanan Frengki dari Ujung Batu. 

Mendengar kondisi Frengki kurang baik, dedet langsung mengajak Frengki ke Sekretariat Sinergi Otomotif Bukittinggi (SOB). 

Frangki bersyukur ada banyak orang baik, pada hari itu. Ada banyak masukan yang terima dan pada akhirnya ia harus bermalam di Kota Bukittinggi. Mengingat kondisi motornya harus di bawa kebengkel dan tidak aman jika lanjut perjalanan. 

Ditempat yang sederhana, Frengki tertidur pulas, karena ia sangat keletihan. Paginya, tim Owner Bukittinggi seperti Om Dody dan Dedet mengatarkan Frengki ke sebuah bengkel di Gurung Panjang. Kemudian sekitar pukul 2 sore, kondisi motor Frengki sudah mulai membaik. Pada kesemapatan itu jua, Frangki juga bertemu dengan Om Kiem, dari  CB150X. Sumbar Ada banyak cerita manis ketika itu, dan memaksa Frengki harus menginap semalam lagi di Kota Bukittinggi. 

Silih berganti, tim Owner CB150X menemui Frengky, seperti Kak Afrida, Om Oki. Sungguh manis ceritanya, ia menjadi kuat karena brotherhood di Kota Bukittinggi cukup terjaga dengan baik. Kemudian Frengki juga ikut cara melihat anak Om Tyio yang sudah dua pekan lahir. Cukup padat kegiatan, namun kebersamaan membuat semua terasa indah.

Malam kedua ini, Frengki tidak bisa menolak tawaran dari Om Zoel Galon, member Owner CB150X untuk menginap di rumahnya, Canduang Koto Laweh. Tidur di lereng Gunung Merapi tentu jauh berbeda dengan Ujung Batu. Hawa Dingin membuat kaki sedikit kaku. Namun kondisi itu, membuat mata samakin cepat terlelap.

Mentari pagi mulai menyapa, silih berganti warga Lasih terlihat malai meninggalkan rumah, ada yang pergi ke sawah hingga mengatarkan anak ke sekolah. 

Cuaca Selasa pagi masih mendung, petanda Frengki harus secepatnya meninggalkan ranah Minang. Fikirannya kembali tertuju sosok wanita yang begitu dicintai di Lampung Sana. Oh ibunda, perjalanan anank mu semakin panjang !

Duduk santai di atas rumah tua sembari menikmati secangkir kopi, cerita pun semakin enak untuk didengar, hingga akhirnya datang lah sore menyapa. Frengki masih tertahan di tanah Kelahiran Bung Hatta dan Haji Agus Salim. Begitulah cara bikers di Bukittinggi, siapapun akan merasa nyaman mampir disini. 

Sekitar pukul 2 sore, Frengki diantarkan Om Zoel dan Dedet ke batas Kota Bukittinggi. Inilah petanda, perjalanan harus berlanjut. Hati yang berkecamuk, karena perpisahan itu memang pahit. Namun apalah daya, ada hajat yang cukup besar harus di tunaikan yaitu "Pulang Kampung".

Meninggalkan Kota Bukittinggi

Bismillah...Frengki mulai berangkat ke Lampung lintas Barat. Ia akan melintasi Kota Padang, Pesisir Selatan dan Bengkulu. Kemudian baru lanjut ke Lampung. 

Sepanjang perjalanan, ia tersenyum layu melihat indahnya ranah Minang dan berharap bisa kembali melintasi daerah ini. 

Perjalanan terus berlanjut, hingga ia sampai di tugu perbatasan Kabupaten Pesisir Selatan. Disana ia disambut club Byonic Pesisir Selatan. Tak enak pula, jika tidak menyedu kopi panas disana. 

 Ia harus mengakhir cerita manis itu, dan harus segera sampai di Lampung. Perjalanan berlanjut, hingga malam dan harus meningap di Tapan, Pesisir Selatan. Sebenarnya jika lanjut perjalanan sekitar 3 jam lagi, ia akan sampai di Muko-Muko Bengkulu. Namun ia memilih menginap di Tapan, demi keselamatan di perjalanan. Tidak elok pula memaksa padan kendati rindu semakin mendalam. 

Menyapa Bumi Raflesia Bengkulu

Salah satu sahabatnya di Bukittinggi, Om Kiem teringat dengan perjalanan Frengki. Ia terus berkomunikasi, hingga Frangki di masukin ke grun WA Touring Motor Indonesia. Agar Frengki bisa pantau oleh Bikers Bengkulu.

Nasib baik masih bersama Frengki, ia disambut Biker Bengkulu Om Den. Om Ded memang terkenal ramah dan baik hati. Tak bisa Frangki menolak beragan tawaran, seperti harus menginap semalam di Bumi Raflesia dan harus berkeliling melihat objek wisata sejarah seperti rumah Bung Karno dan melihat indahnya pantai Panjang.
 
Setelah menikmati indahnya malam di Bumi Raflesia dan kekuatan brotherhood. Frengki terpaksa kembali malanjutkan perjalanan. Hingga ia harus melewati jembatan Manula pada malam hari. 

Karena tidak memungkin lanjut perjalanan, rest area menjadi pilihan untuk beristirahat hingga menunggu pagi. Ia merasa cukup senang, karena tidak lama lagi akan sampai di Lampung. Bisa menikmati masakan terbaik ibunda tercinta. 

Perjalanan berlanjut, letih perjalanan semakin tidak terasa. Ia semakin dekat dengan Lampung. Jantung tidak lagi berdebar, ia mulai tersenyum sendiri di atas motor. Hingga akhirnya ia sampai di kampung halaman. Ia sangat bahagia, lika liku perjalanan menuju pulang kampung berhasil ia lewati dengan baik. Sehingga rindu yang cukup berat, tertunaikan ketika melihat senyum manis keluarga.

Bukittinggi 29 September 2025
Penulis : Kiem [Blogger Bukittinggi]
Sponsorship: PT Hayati Pratama Mandiri Padang

0 comments :